Selamat Pagi, Cantiknya Semesta
Laki-laki berparas rupawan itu kini sudah terduduk santai di ruang tamu Panti Asuhan yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Harapan. Hendak menunggu Adiba yang mungkin masih bersiap-siap, akhirnya Aran memutuskan untuk bermain bersama beberapa anak-anak yang berada di sana, asik bergelut bersama alat gambar masing-masing.
“Kak Aran! Lihat deh gambaran Raya udah bagus belum?”
Seorang anak berusia kisaran 8 tahun itu menghampiri Aran dengan bersemangat. Tangan mungil nya menggenggam selembar kertas yang nampak sebuah gambar yang berhasil membuat Aran tersenyum pilu.
Anak itu tersenyum, “Gambaran Raya bagus kan, kak? Lihat deh ini ada gambar Ayah sama Bunda nya Raya lagi pegangin Raya main ayunan. Ngebayanginnya aja udah kerasa bahagia banget ya? Apalagi kalau Raya masih bisa ngerasain punya ayah sama bunda, pasti sekarang Raya enggak akan ada di panti asuhan ini...” ucap anak kecil itu, dengan senyuman yang masih terpampang di wajah manisnya.
Aran mengulum bibirnya, perlahan tangannya hendak meraih puncak kepala Raya dengan lembut. “Raya, kalau pun sekarang ayah bunda Raya udah enggak ada di dunia, Raya harus tetep bersyukur loh. Kan Raya masih punya Bunda. Jadi, Raya gaboleh sedih ya? Kalau pun Raya kesepian, inget, ada kak Adiba sama kak Aran yang bakal temenin Raya sama yang lainnya di sini.”
Bunda. Bunda yang dimaksud Aran tadi, adalah sosok wanita yang paling disayangi di tempat ini. Wanita paruh baya yang dengan sabar mengurus beberapa anak yang sudah tak memiliki rumah untuk ditinggali. Wanita berhati malaikat yang dengan rela menghabiskan waktunya hanya demi kebahagiaan anak-anak yang tak memiliki keluarga. Wanita, yang selama ini telah memberikan harapan bagi anak-anak yang sempat kehilangan harapan walau hanya sesaat. Bunda, adalah sosok yang paling berharga, baik bagi Adiba, Aran, ataupun anak-anak yang berada di panti asuhan ini.
“Kalau kak Aran gimana? Pasti kak Aran bahagia banget ya sekarang? Soalnya kan kak Aran bisa tinggal sama Mama Papa baru di rumah yang besar itu.”
Lagi-lagi Aran hanya bisa tersenyum saat mendengarkan pertanyaan yang diberikan oleh anak kecil dihadapannya. Aran mengangguk kecil, “Iya, Kak Aran bahagia. Mama Papa barunya kak Aran baikk banget. Nanti kapan-kapan Raya harus ikut deh main ke rumah barunya kakak, mau ga?”
“Mau mau!!!” kata Raya heboh, yang hanya ditanggapi dengan kekehan kecil dari mulut Aran.
Lantas Raya kembali meninggalkan Aran dan kembali bergabung dengan anak-anak lainnya. Aran yang memperhatikannya hanya tersenyum, memikirkan betapa perlunya dirinya bersyukur karena semesta memperbolehkan dirinya untuk merasakan bahagia bersama Mama Papa yang mengadopsi nya beberapa tahun yang lalu.
“Aduh Aran, maafin ya kayaknya Adiba bakal masih agak lama nih soalnya barusan bunda chat aja katanya baru selesai mandi. Gimana nih Adiba ini...”
Bunda yang datang dari arah dapur tiba-tiba menyodorkan secangkir teh hangat untuk Aran.
Aran terkekeh, “Enggak apa apa, Bunda. Santai aja kok, lagian bel masuk masih agak lama. Biarin aja Adiba siap-siap, biasalah namanya juga perempuan.”
Bunda menghela napas pelan, dan tersenyum bangga melihat laki-laki yang dulu ia kasihi sewaktu kecil, kini sudah beranjak begitu dewasa dengan sikapnya yang mampu menghangatkan jiwa.
“Oh iya Aran,” Bunda menepuk pelan pundak Aran yang kini berada di sebelahnya. “Terima kasih ya, nak.”
Aran sontak mengangkat kedua alisnya, kebingungan. “Terimakasih untuk?”
“Terimakasih, karena sudah mau bertahan sampai saat ini. Bertahan untuk selalu menjaga dan menyayangi Adiba. Walaupun Adiba bukan adik kandung kamu, tapi dari dulu sampai sekarang kamu selalu melindungi Adiba dan bersikap layaknya seorang kakak bagi Adiba.”
Aran baru saja menyesap teh hangat yang ada di depannya. Lantas ia taruh perlahan cangkir tersebut ke atas meja kembali. Memperbaiki posisi duduk dengan kepala menghadap ke arah sang Bunda.
“Bunda tenang aja. Aran janji, sampai kapanpun, Aran bakal selalu ada buat Adiba, Aran bakal selalu siap ngelindungi Adiba, dan Aran pun bakal selalu berusaha buat bikin Adiba bahagia.”
Bunda tersenyum hangat, “Terima kasih ya, Nak.”
“Eh tapi ngomong-ngomong, Bun.”
“Kenapa?”
“Kenapa malah Aran yang jadi sosok kakak buat Adiba ya? Padahal kan tuaan Adiba daripada Aran juga, hahaha,” canda Aran dengan dihadiahi kekehan kecil di akhir kalimatnya.
Bunda terkekeh, “Kamu ini ada-ada aja.”
Lantas kini keduanya hanya sama-sama diam, mengalihkan perhatiannya kepada anak-anak yang asik bermain satu sama lain. Tawa yang keluar dari mulut anak-anak itu seakan-akan menunjukkan pada semesta bahwa semuanya baik-baik saja. Padahal Aran yakin, saat ini mereka benar-benar merasa kesepian. Walaupun suasana kini cukup ramai, namun mereka merasa sepi karena tak ada sosok ibu dan ayah yang mampu menghangatkan hati mereka.
Hingga akhirnya perhatian Aran teralihkan oleh kedatangan seorang gadis yang sejak tadi ia nantikan. Seorang gadis yang selalu menjadi alasan Aran untuk bertahan hingga detik ini. Seorang gadis yang memiliki senyuman paling indah menurut Aran. Siapa lagi kalau bukan Adiba, sosok tangguh pemilik jiwa yang tenang walaupun semesta terkadang tak berpihak padanya.
Dengan bahasa isyarat, yang tentu saja Aran pahami, Adiba melontarkan sebuah kalimat.
“Aran udah nunggu daritadi banget? Maafin Adiba ya kalau Adiba siap-siapnya kelamaan.”
Ada rasa sesal di wajah gadis itu. Namun tampaknya hal itu malah membuat Aran semakin gemas untuk memperhatikannya.
“Engga kok. Enggak lama-lama banget, biasa aja,” ucap Aran dengan disertai sebuah senyuman.
“Yaudah kalau gitu langsung berangkat aja yuk!”
Adiba mengangguk. Lantas mengarah kepada Bunda untuk mencium tangganya sebagai rutinitas yang memang selalu dilakukan setiap hari saat sebelum berangkat kemanapun. Begitupun Aran, laki-laki itu ikut mencium tangan Bunda setelahnya.
“Aran sama Adiba sekolah dulu ya, Bund.”
“Iya. Hati-hati di jalan ya. Semangat belajarnya!”
Aran dan Adiba yang sudah melangkah keluar hanya mengangguk bersamaan.
Keduanya kini berjalan menuju parkiran tempat motor Aran diparkirkan. Dengan Aran yang sedari tadi terus terusan menggenggam erat tangan Adiba dengan hangat. Lantas laki-laki itu melepas genggamannya hanya untuk memberikan helm kepada Adiba.
“Ini dipake dulu helmnya, biar aman di jalan.”
Adiba mengangguk.
“Eh iya lupa.”
Adiba mengernyitkan keningnya, “Kenapa?”
“Aku belum nyapa kamu, hehehe.” Lantas Aran membenarkan rambut Adiba yang belum menggunakan helm, membenarkan beberapa helai rambut yang menurutnya masih belum rapi, seraya berkata, “Selamat pagi, cantiknya semesta.”
Dan kini, Adiba merasakan detak jantungnya tidak normal. Pipi nya memerah dengan senyum malu yang terpampang di wajahnya.
Aran terkekeh, “Hahaha, kok malah diem? Ayo pake helmnya, kita langsung berangkat. Atau mau dipakein?”
Dengan cepat, Adiba menggelengkan kepalanya. Lantas buru-buru menggunakan helmnya sebelum Aran yang memakaikannya. Bisa-bisa pagi ini wajah Adiba sudah menjadi sangat merah seperti kepiting rebus.
“Udah?”
Dari kaca spion, Aran mampu melihat Adiba mengangguk pertanda bahwa dirinya sudah siap untuk berangkat.
“Oke, kita berangkat ya!!!”