Rupanya Hanya Mimpi
Deg!
Gadis itu terperanjat dari tempat tidurnya dengan napas yang tersengal-sengal. Keringat yang mengucur dengan deras di beberapa bagian tubuhnya. Ia pun merasakan sedikit rasa sakit di dalam hatinya. Perlahan ia memperhatikan keadaan, rupanya ia berada di kamarnya saat ini.
“Jadi, tadi itu cuman mimpi?” batinnya.
Namun masih merasa tidak yakin dengan kenyataan. Ia masih takut merasakan kehilangan. Ia belum siap, terlebih lagi jika harus kehilangan seseorang yang paling ia sayangi. Adiba belum siap.
Gadis itu dengan cepat mencari ponselnya yang terletak di atas nakas. Dengan rasa tak percaya diri, gadis itu mengetikkan pesan kepada seseorang yang baru saja berada di dalam mimpinya. Mimpi yang benar-benar buruk bagi Adiba.
Was-was. Diri Adiba kini diambang rasa was-was yang tak terkendali. Tangannya basah karena keringat dingin yang keluar. Sembari menggenggam erat ponsel miliknya, gadis itu berharap kalau Aran memberikan balasan pesan untuknya. Karena jika tidak, Adiba akan berpikir kalau kejadian sebelum tabrakan di jalan raya itu adalah benar adanya. Kejadian disaat Adiba harus kehilangan Aran untuk terakhir kalinya.
Harap-harap doa masih Adiba panjatkan. Bahkan dirinya sama sekali belum menyiapkan diri untuk berangkat ke sekolah.
Deg!
Adiba dibuat sedikit terkejut dengan balasan pesan dari Aran. Perasaan gadis itu kini bercampur aduk. Ada rasa bahagia karena ternyata semuanya hanyalah mimpi, namun ada rasa sedih juga jika mengingat suatu saat nanti mungkin Adiba memang harus merasakan kehilangan sosok Aran yang begitu ia sayangi.
Tapi Adiba berusaha untuk tetap tersenyum. Senyuman yang begitu indah untuk pertama kalinya di pagi ini. Pancaran cahaya yang menyusup dari celah gorden di jendela kamarnya menambah kecantikan Adiba yang memang murni adanya.
“Tuhan, jangan dulu ambil Aran dari Adiba sekarang, ya? Adiba belum siap, dan emang enggak akan pernah siap buat merasakan kehilangan.”