PROLOG

Rasa sakit yang begitu menyeruak di dalam hati Adiba, sudah tak mampu lagi ia tahan. Kini pertahanan gadis itu mulai runtuh, air matanya mendadak jatuh membasahi kedua pipinya. Sakit hatinya seakan-akan menjalar ke seluruh tubuhnya. Terutama saat dirinya harus mendapatkan kabar bahwa seseorang yang begitu ia sayangi telah pergi meninggalkannya.

Gadis itu ingat betul perkataan Aran tempo hari, “Adiba, kalau Aran pergi, Adiba harus janji sama Aran ya? Adiba enggak boleh ngerasa sendirian, di luar sana masih banyak yang sayaang banget sama Adiba. Bunda, Aresh, bahkan Mama pun sebenernya sayang banget sama Adiba. Jadi, Adiba enggak boleh menyerah ya? Semesta enggak jahat kok sama Adiba, semesta hanya ingin membantu Adiba biar bisa membuktikan pada seluruh dunia, kalau Adiba itu adalah perempuan yang bener-bener kuat.”

Perlahan, tangan Adiba bergerak hanya untuk menyampaikan sebuah isyarat, “Emangnya Aran mau pergi ke mana?” Bodoh, benar-benar bodoh. Saat itu Adiba tidak pernah terpikirkan kemanakah Aran akan pergi. Saat itu Adiba belum mengerti bahwa untaian kata yang disampaikan Aran adalah kalimat terakhir yang tersampaikan olehnya.

Mengingat semua kenangan dirinya dengan sosok laki-laki kuat dalam hidupnya, Adiba merasa hatinya semakin sakit bagaikan diremas dengan erat sampai-sampai Adiba tak kuasa menahan rasa sakitnya. Ingin sekali gadis itu berteriak. Kalau saja bisa, sedari tadi Adiba sudah berteriak sekencang mungkin untuk meluapkan rasa sakitnya. Tapi takdir tidak memperbolehkannya. Adiba yang terlahir bisu, lidahnya selalu kelu dan ucapannya seakan-akan selalu tertahan di kerongkongan.

Adiba ingin sekali berteriak kala itu. Namun, yang bisa ia lakukan hanyalah menangis tanpa suara.

Dengan air mata yang sukses membasahi pipinya, Adiba berlari sekencang yang ia bisa. Di bawah guyuran hujan yang begitu deras, Adiba berlari di sepanjang trotoar tanpa memperdulikan banyak mata yang sedari tadi memperhatikannya. Adiba benar-benar tidak peduli. Yang ia inginkan saat ini hanyalah meluapkan emosinya dengan caranya sendiri.

Sampai akhirnya gadis itu berhenti di perempatan jalan yang cukup ramai. Lampu lalu lintas yang menunjukkan warna hijau pertanda kendaraan boleh melaju. Namun apa yang Adiba lakukan? Gadis itu malah bersikeras menyeberangi jalan tanpa memperhatikan keadaan.

Hingga akhirnya,

BRUUKKKKKKKK!

Sebuah mobil sukses menghantam tubuh gadis itu dengan sangat kencang. Menyisakan dirinya yang tergeletak dalam keadaan darah yang mengalir di sekujur tubuhnya. Bagaikan sedang berbaring di jalanan, gadis itu malah menyunggingkan senyuman.

“Aran, tunggu Adiba... Sebentar lagi Adiba bakal nyusul Aran...”


Ini bukanlah akhir dari sebuah cerita, karena sedari tadi untaian kata-kata yang tersampaikan hanyalah sebuah pembukaan.

Adibaran