Prolog

Jangan terlarut dalam kesedihan yang mendalam Yakinlah di sekitarmu ada banyak kesenangan Jangan larut dalam kenangan Sekiranya hal itu dapat membuat goresan

Don't be sad for too long Cause you're too kind for feel sad

Ini adalah kisah seseorang yang berjuang sendirian. Padahal dirinya merasakan sebuah kesedihan yang mendalam tanpa memperlihatkannya pada semua orang.


Rintik-rintik hujan turun dengan derasnya. Membasahi tanah di kala malam telah tiba. Larut dalam keheningan, padahal suasana cukup ramai. Itulah yang kini dirasakan seorang Aadina Zeline Alvaro. Kebiasaannya adalah merasa sepi di dalam keramaian.

Sebenarnya dikatakan ramai pun tidak terlalu. Di dalam mobil xenia hitam yang melintasi jalanan Jakarta di malam hari. Melewati lampu-lampu jalan yang menjulang tinggi. Pohon rindang berjajar di samping trotoar. Beberapa orang yang berlalu lalang walaupun hari sudah malam. Namun di dalam kendaraan beroda empat itu, sekarang berisikan lima insan saling berkawan.

Aadina Zeline Alvaro yang lebih sering dipanggil Adin.

Gadis melankolis pecinta senja dan kopi, padahal memiliki penyakit lambung yang pasti. Tak peduli, berkali-kali temannya mengingatkan pada gadis itu untuk tidak terlalu sering mengonsumsi kopi dan minuman berkafein lainnya. Dirinya hanya iya-iya saja, tapi nyatanya nasehat temannya itu ia biarkan saja bagai angin lalu.

Bucin, adalah julukan lain untuk Adin yang diberikan oleh teman dekatnya. Bukan karena dirinya punya pacar lantas menjadi budak cinta dari pasangannya itu. Tidak. Adin dijuluki bucin hanya karena dirinya memiliki hobi merangkai kata yang berhubungan dengan kata-kata cinta penyembuh luka.

Berbicara tentang luka, Adin sendiri bahkan masih menyimpan luka yang cukup dalam sejak beberapa tahun yang lalu. Berawal sejak ia mulai mencintai seseorang dalam diam. Yang sampai sekarang, dirinya tidak sanggup untuk mengungkapkan. Hanya sekedar memperhatikan dari kejauhan, dan mengagumi dalam kesendirian.

Jangan tanya bagaimana rasa sesak yang Adin terima setiap hari. Terlebih lagi, laki-laki yang dicintainya adalah seseorang yang tingkat kepekaannya sangat rendah. Belum lagi kadar pembicaraan yang dikeluarkannya sangat sedikit, alias laki-laki itu adalah laki-laki yang paling dingin di antara teman-temannya.

Bahkan saat ini, laki-laki itu duduk di depan sembari menyetir mobil dengan airpods yang tersumpal di kedua telinganya.

Ghiffar Vernand Alvaro, adalah alasan Adin merenung setiap hari. Mengukir kata-kata yang mengungkapkan isi hati. Terpaksa tersenyum walaupun hati yang sakit tak mendukung.

Bahkan, kini Adin memperhatikan kaca mobil yang terpantul wajah seorang Ghiffar. Yang melihatnya saja, membuat Naya tersenyum hambar dan tertawa dalam hati, “Sakit banget gak sih berjuang sendirian. Mana orang yang diperjuanginnya kek kulkas berjalan aih,” keluhnya dalam hati.

“Lo nggak tidur, Din?”

Suara itu membuat Adin menoleh ke arahnya. Dan didapati Naura bertanya pada dirinya, sembari asik memainkan ponselnya dengan airpods yang tersumpal di telinganya.

“Nggak ngantuk,” adalah alasan paling logis yang memang seharusnya Adin katakan sebagai jawaban.

Saat ini, Adin dan teman-temannya baru saja pulang dari acara 'muncak' yang menjadi rutinitas kegiatan mereka saat hari libur. Karena di antara pertemanan mereka, rata-rata semuanya pecinta alam dan keindahan langit lainnya. Maka kalau mereka main, bukan mall atau kota tujuannya. Melainkan ke daerah gunung, pantai, dan wisata alam lainnya.

Menggunakan mobil milik Revan. Tapi entah kenapa, yang nyetir malah Ghiffar, yang jelas-jelas masih belum memiliki SIM A. Tapi katanya Revan terlalu malas menyetir. Akhirnya Ghiffar mau tak mau menjadi supir untuk teman-temannya.

Lagi-lagi, Adin hanya bisa tersenyum saat melihat dan memperhatikan Ghiffar yang sedari tadi diam seribu bahasa. Dan tiba-tiba hati nya begitu sakit saat mengingat perjuangannya tak pernah di'notice' oleh laki-laki itu.

Entah kebetulan atau apa, saat itu, lagu yang terputar dari mobil itu adalah lagu 'Mencintai dalam sepi'.

Otomatis semakin mendukung suasana 'sakit hati' yang membuncah dalam hati Adin saat ini. Bahkan tanpa ia sadari, setetes air mata kini jatuh di pipinya.

“Sialan.”