Jika, Maka
Tentang sebuah kepastian yang tak kunjung datang, katanya.
Saat itu waktu sudah menjelang sore. Langit senja yang begitu indah otomatis menghiasi suasana perpulangan SMA Dirgantara. Anak-anak berbondong-bondong menuju gerbang untuk bergegas pulang menuju rumahnya masing-masing. Tapi tidak untuk kelas XII IPA 1. Penghuni kelas tersebut masih patuh mendengarkan nasehat wali kelas yang memang termasuk kegiatan rutin setiap sebelum perpulangan. Obrolan-obrolan sederhana yang menjadi topik pembicaraan setiap sore, membuat hubungan anak-anak di kelas itu semakin dekat dan akrab bagaikan saudara satu sama lain.
“Bu, kalau nanti kita udah lulus, kita masih bisa ngobrol-ngobrol kayak gini lagi gak, ya?” Salah satu murid yang bernametag Revan itu tiba-tiba melontarkan pertanyaan dengan lantang.
Bu Irma, walikelas XII IPA 1, tersenyum dengan hangat ke arah murid-murid yang begitu ia sayangi.
“Pasti bisa, dong. Zaman sekarang kan udah canggih, kalau pun nanti kalian bakalan berpisah untuk mengejar tujuan masing-masing, kalian kan masih bisa berkomunikasi lewat media sosial. Gampang, kan?” sahut Bu Irma hangat.
“Ah, tapi kalau di chat mah rasanya beda kayak ngobrol biasa. Sensasi nya itu loh kayak kurang sreg aja,” Adin tiba-tiba mengeluarkan suaranya.
“Emangnya kenapa ga sreg? Padahal ngobrol di chat lebih gampang gak sih?” Naura menimpali.
“Ih apa ya, orang orang tuh kalau di chat kayak suka cuek aja gitu typing nya. Suka sebel gue tuh kalau kayak gitu,” keluh Adin.
Tampak Naura sedikit menahan tawa nya, “Sorry, Din. Tapi bukannya lo udah biasa dicuekkin ya? Hahaha!” Kali ini, Naura berbicara dengan pelan.
Adin menye-menye, “Udah biasa dicuekkin si dia, tapi kalau terlalu sering dicuekkin mah gue sakit hati atuh.”
Naura terkekeh pelan.
“Apa sih ah kok tiba-tiba ngomongin itu, random banget.”
Bu Irma yang ternyata sedari tadi masih bisa mendengar percakapan antara Adin dan Naura, hanya terkekeh pelan. “Biasalah, anak muda,” batinnya.
Lantas Bu Irma menghela napas. Entah dari mana, tiba-tiba ada sebuah ide yang muncul di pikirannya.
“Eh, kalian udah mau pulang belum? Ibu mau ngasih game nih sebelum Senin depan mulai Ujian Nasional,” kata Bu Irma.
Arvin menyahut, “Sebenernya udah kebelet pengen pulang sih. Tapi kalau ada game ya kali ga kuy! Iya gak, guys?!” tanya Arvin bersemangat, yang ternyata malah mendapatkan sorakan dari teman-teman sekelasnya.
“Iya, Bu. Boleh game dulu, tapi jangan lama-lama ya, Bu.” Akhirnya setelah sekian purnama, Ghiffar yang notabene-nya merupakan laki-laki paling irit bicara di kelas pun mengeluarkan suaranya.
“Engga, kok. Bentar ini mah serius,” kata Bu Irma sambil sedikit nyengir.
“Oke. Jadi nama game nya tuh 'Jika Maka'. Ada yang udah pernah main game ini sebelumnya?”
Namun rupanya semua murid di kelas saat itu serentak menggelengkan kepalanya. Tanda mereka belum pernah memainkan permainan yang berjudul 'Jika Maka' itu.
“Semuanya belum pernah berarti ya? Yaudah ibu jelasin ya tata cara mainnya. Jadi nanti kalian bikin kata-kata random di sobekan kertas. Yang cewek pake awalan 'Jika', terus yang cowok pake awalan 'Maka'. Ngerti, nggak?”
“Ngerti, Bu. Terus abis itu ngapain, Bu?” tanya Adin yang begitu tak sabaran.
Arvin menggeplak kepala Adin dari samping, dengan begitu keras. “Sabar atuh, dodol!”
Adin berdecak kesal, “Ya ga usah geplak kepala juga kali, ga sopan.” Namun rupanya Arvin tidak peduli kalau kembarannya itu kesal pada dirinya. Lebih kepada tidak peduli, sih.
Bu Irma melanjutkan kalimatnya, “Nah abis itu, nanti kumpulin kertas nya ke depan, yang cowok simpen kertasnya di kanan ibu, yang cewek simpen kertas nya di kiri ibu. Nanti ibu bakal pilih random dua kertas. Satu kertas yang isi nya tulisan berawalan 'Jika', satu lagi ibu ambil kertas yang isi nya tulisan berawalan 'Maka'. Nanti ibu bakal bacain, kalau ternyata cocok, berarti anak-anak di kelas ini emang sehati.”
“H-hah? Gimana, Bu? Ga ngerti,” kata Naura.
“Jadi nanti lo tinggal tulis aja kata-kata pake awalan 'Maka', Nau. Abis itu kertas nya kumpulin, nanti dipilih acak deh, kayak cocok cocokin kata kata gitu,” kata Adin.
“Oh, si kata-kata nya random aja?”
Adin mengangguk, “Iya, random aja. Keluarin aja isi kepala lo, terus tuangin dalam bentuk kata-kata ke kertas itu, pake awalan 'Maka' ya jangan lupa.”
Lantas Naura hanya mengangguk, tanda kalau dirinya sudah paham.
“Oke! Kalau gitu sekarang kalian mulai nulis kata-katanya ya! Random aja, ibu kasih waktu dua menit, dari sekarang!”
Lantas semua murid kelas XII IPA 1 pun mulai beraksi dengan secarik kertas dan pulpen yang ada di hadapannya. Ada yang langsung mendapatkan ide tentang apa yang seharusnya ditulis dalam kertas itu. Ada juga yang misuh-misuh karena bingung hendak menuliskan apa.
Namun sesuai dengan perintah Bu Irma, hanya membutuhkan dua menit, semua murid sudah mengumpulkan kertas yang sudah digulung ke hadapan Bu Irma.
“Oke! Semuanya udah kumpulin kertas nya, kan?”
“UDAAAHH BUU!!!” Kini murid-murid bersemangat.
“Yaudah, ibu pilih acak ya—”
“Bu, kalau nanti ada kalimat yang cocok, yang bikin kalimatnya bakalan di kasih hadiah ga Bu?!” Revan memotong pembicaraan Bu Irma.
Tampak Bu Irma sedikit berpikir, “Hm, hadiahnya seperti biasa minta aja ke Arvin ya, cimin sepuluh rebueun,” kata Bu Irma sambil mengerlingkan mata ke arah Arvin yang mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Lah kok hadiahnya dari saya sih, Bu?” kata Arvin tidak terima.
“Gapapa dong. Kan kamu juragan cimin di kelas ini.”
“Hahahha!” Kelas itu kini dipenuhi dengan tawaan renyah.
“Udah ah lanjut ini daritadi kok ga mulai mulai. Oke, ibu pilih satu dulu ya, dari yang cewek, berarti kalimat 'Jika'.”
Bu Irma mengambil salah satu gulungan kertas yang ada di kiri. “Oke! Gini ceunah kalimatnya, 'Jika saya masuk ke PTN Favorit lewat jalur SNMPTN...”
Perkataan Bu Irma menggantung karena hendak mengambil satu kertas lagi dari sebelah kanan, “Terus ini nih dari yang cowok, katanya, 'Maka kamu harus beliin aku cimin dua keresek, deal no debat!' Waduuhhh???? Cocok gak sih?”
“Ih cocok ibu cocok!!!” kata beberapa murid.
“Apaan ibu ih nggak cocok, masa yang satu ngomongin PTN, yang satu ngomongin cimin.”
“Cocok tau, kan itu kata si cewek kalau misalkan dia lolos SNMPTN terus si cowok nya kayak minta traktir cimin gitu dari dia dua keresek. Iya ga sih? Hahahha!”
“Iya bener, hahahaha!!!!” Sorak sorai murid pun mulai memenuhi seisi ruangan kala itu. Sangat berisik rupanya.
“Suuttt udah udah. Fiks ya berarti ini cocok nih, siapa nih yang bikin kalimatnya, ayo ngaku!” kata Bu Irma.
“Arvin Bu! Hehehehe...” Arvin berdiri bersemangat sembari memberikan cengiran terbaiknya.
“Oalah Arvin, terus satu lagi yang nulis kalimat 'Jika', siapa?”
Dengan ragu, salah seorang perempuan di bangku paling pojok berdiri malu malu. “Lala Bu, hehehe...”
Semua orang disitu tampak terkejut, “What?! SERIUSAN LALA ARVIN?! CIE CIEEEE UHUYYY COCOK EUYY SEHATI KALIAAN!”
“Wah fiks sih ini mah nanti kalau Lala lolos SNMPTN harus traktir Arvin cimin dua keresek,” kata Revan sambil tertawa.
Lantas kelas itu seketika langsung dipenuhi dengan suara suara berisik alias murid-murid pada ngecie-ciein Arvin dan Lala, heboh.
“Udah Bu, lanjutin aja, biar cepet pulang,” kata Ghiffar.
“Oke, sekarang pasangan yang kedua ya...”
Perlahan Bu Irma membuka kertas dari tim 'Jika', “Oke oke. Wah baku nih kalimatnya, katanya gini, 'Jika selama ini aku masih belum mendapatkan kepastian...' Wait, what? Bentar? Apaan kok inimah bucin sih???” Bu Irma tak habis pikir.
“Apaan ibu, enggak bucin kok itu, kepastian kan gak melulu tentang bucin, gimana sih Bu ah...” keluh Adin.
Bu Irma terkekeh, “Ohhh berarti ini pasti kamu yang nulis ya Adin?”
Adin hanya menyengir lebar, “Yaudah Bu, pilih satu kertas lagi Bu dari tim cowok, siapa tau cocok gitu kan, ihiy.”
“Oke, ibu ambil ya...” Bu Irma mengambil kertas dari tim 'Maka'. Tapi saat membuka gulungan kertas tersebut, Bu Irma malah terperangah kaget, “Ih?!”
“Kenapa Bu???” Murid muridnya ikut penasaran pula.
“Ini kalimatnya nyambung banget tau! Ibu kaget banget seriusan.”
“Emang apaan Bu kalimatnya gimana?”
“Gini ceunah kalimatnya, 'Maka, lo harus nunggu, kalau waktunya udah tepat, gue bakalan kasih lo kepastian itu.' TUH COCOK BANGET GAK SIH?!?!?!” Bu Irma heboh.
“HAH?!?! PARAH BU ITUMAH COCOK BANGET!!”
“Ibu ulang nih ya. Kata si ceweknya, 'Jika selama ini aku masih belum mendapatkan kepastian.' Terus kata cowoknya, 'Maka, lo harus nunggu, kalau waktunya udah tepat, gue bakalan kasih lo kepastian itu.' Plis ini kalimatnya nyambung banget. Serius ini siapa yang nulis, kan yang nulis kalimat 'Jika' tuh Adin, yang nulis kalimat 'Maka' siapa ayo ngaku!” kata Bu Irma penasaran.
“Ngaku plis! Ini kayaknya yang nulis duaduanya bakalan jodoh deh,” kata Revan.
Tak membutuhkan waktu lama, lagi-lagi seisi kelas dibuat terkejut saat tahu siapa yang menulis kalimat sebelumnya. Oh ternyata, Ghiffar pelakunya.
“Saya Bu. Saya yang nulis kalimat berawalan 'Maka' itu,” kata Ghiffar sambil sesekali melirik ke arah Adin yang sedang menunduk menahan rasa malu nya.
“PARAH!!! CIEEEE ADIN GIPAR CIEEE AAHHH PARAH COCOK BANGET KAYAKNYA KALIAN!!! HAHAHAHA!”
“Par! Par!”
Dari belakang, Revan langsung merangkul Ghiffar dengan paksa.
“Gue juga tahu kok tadi lo ngintip kertas nya si Adin, baru lo nulis. Ngaku lo pasti sengaja nulis kalimat kayak tadi, kan? Parah banget lo, Par!” kata Revan.
“Apasih engga.”
“Halah, gengsi lo ketinggian banget sih sumpah! Jangan-jangan selama ini lo juga nyimpen perasaan buat si Adin diem-diem ya?” Arvin menimpali.
“Engga.”
“Cuih. Bilangnya engga, tapi buktinya, tadi aja lo sengaja nyambungin kalimat lo sama kalimatnya si Adin.”
“Gak sengaja itu.”
“Alaaahhhhhhh boong lo, Par!”
“Ga sengaja serius. Gue juga ga tahu bakal kayak gitu.”
“Adin!!! Cie ih cie cocok sama gipar nih ciee!”
“Sut diem, Nau. Gue masih salting seriusan,” kata Adin menahan rasa malu nya sedari tadi. Pasalnya Adin ini memang sudah menyimpan perasaan yang lebih pada temannya yang berinisial G alias Ghiffari.
“Cie cieeee... Mungkin ga sih, itu Gipar sengaja nulis kayak gitu, jangan jangan dia tadi ngintip kertas lo dulu, dia kan duduk nya di belakang lo,” kata Naura.
“Gamungkin, Nau. Gipar bukan orang yang kurang kerjaan kek begitu sih, bukan dia banget.”
“Hm iyasih. Eh tapi ngomong-ngomong kalimat yang lo tulis, lo tuh selama ini emang ga pernah dikasih kepastian sama si Gipar, tapi kenapa lo masih bertahan sampe sekarang sih, Din?” tanya Naura.
Adin tersenyum kecut. “Gue juga gak tahu, Nau. Selama ini gue selalu nanya ke dia, tentang gimana perasaan dia ke gue. Padahal dia udah tau kalau gue suka sama dia, tapi kadang dia tuh bersikap cuek ke gue, tapi kadang juga dia perhatian banget sama gue.”
“Oh, kayak tarik ulur gitu ya?”
Adin mengangguk.
“Yaudah Din coba deh lo tanyain lagi ke dia, siapa tau sekarang dia udah balik suka sama lo, hehehe.”
“Enggak, Nau. Dia gaakan jawab, dia gabakal ngasih jawaban atau kepastian apapun buat gue.”
Karena tidak semua pertanyaan membutuhkan jawaban. Sedangkan, semua jawaban tentu membutuhkan pembuktian. —Ghiffar Vernand Alterio